Rabu, 14 Oktober 2009

Kisah Zahid...

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid
yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di
Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba
Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya
agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid..selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAW
menyapa. "Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.
"Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin
menikah.," kata Rasulullah SAW. Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?"
" Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!" kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang
isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu,
maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut
dan diterima di depan rumah Said. "Wahai saudaraku Said, aku membawa surat
dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku." Said menjawab, "Adalah
suatu kehormatan buatku." Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika
membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan
yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan
keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang
dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini
dari Rasulullah?" Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong.."

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah,
kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini.. bukankah lebih disuruh masuk?"
"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya
engkau menjadi istrinya," kata ayahnya. Disaat itulah Zulfah melihat Zahid
sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah, banyak pemuda yang
tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah...!"
dan Zulfah merasa dirinya terhina. Maka Said berkata
kepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau.bukan
aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak."
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya
kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?"
Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah." Maka
Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu
dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata
bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan
dengan pemuda ini.
Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur'an surat 24 :51.
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil
kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah
ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat". Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. (QS. 24:51)"

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini
merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid
ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid
yang berbeda dari biasanya. "Bagaimana Zahid?"
"Alhamdulillah diterima ya rasul," jawab Zahid. "Sudah ada persiapan?" Zahid
menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan
Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke
pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW
menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?" Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?". Zahid istighfar
beberapa kali sambil berkata, "Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan
aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus." Para sahabat
menasehatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak
berperang?" Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!" Lalu Zahid
menyitir ayat sebagai berikut, "Jika bapak-bapak, anak-anak,
suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal
yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya
(dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS.9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan
Allah. Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan
bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah." Lalu Rasulullah membacakan
Al-Qur'an surat 3 : 169-170 dan 2:154). "Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam
keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan
mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang
yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati".(QS 3:
169-170).

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang
yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya)
mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, "Ya
Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”